Latest Games :
Tampilkan postingan dengan label Kesehatan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kesehatan. Tampilkan semua postingan

4 Fakta Menarik Terlalu Sering Menggunakan Social Media

| 0 Komentar

Informasitips.com – Perkembangan internet belakangan ini telah banyak mengubah pola pikir manusia, bahkan pola pikir tersebut dituntut untuk lebih canggih lagi dalam setiap waktunya. Hasil dari perkembangan teknologi internet pun tidak terlepas dari pola dasar kehidupan manusia yang merupakan makhluk sosial. Hal tersebut mendorong munculnya situs jejaring sosial yang melahirkan berbagai social media yang menawarkan komunikasi dan interaksi yang ringkas, mudah, cepat dan hemat biaya.Ada banyak sekali inovator yang berkreasi melahirkan berbagai social media, sebut saja Facebook, Twitter, Path, Instagram, Linkedln, Tumblr dan masih banyak lagi. Konsep adanya social media untuk mempermudah penggunanya dalam berinteraksi tanpa memikirkan jarak dan waktu memang sudah hadir sejak lama. Lewat social media kita bisa memiliki banyak teman baru, berinteraksi kembali dengan teman lama, atau update informasi. Semua kegiatan tersebut memang sah-sah saja, namun tanpa disadari penggunaan social media yang tadinya dianggap lumrah bergeser menjadi tidak wajar.Coba kita periksa aktivitas kita dalam menggunakan social media mulai dari bangun tidur sampai tidur kembali. Dalam setiap waktunya kita tidak bisa terlepas dari penggunaan social media. Apapun dituangkan di sana, mulai dari setiap kegiatan yang kita kerjakan sampai pada urusan meluapkan perasaan. Jika kebablasan social media, maka tidak menutup kemungkinan dapat menimbulkan kecanduan. Bahkan sebuah penelitian University of Chicago Booth School of Bussiness yang melibatkan 250 responden menyebutkan bahwa kebiasaan mengecek situs jejaring sosial dan membuat status di sana lebih sulit disembuhkan daripada kecanduan pada alkohol atau rokok. Memang, tidak ada kategori spesifik yang menyebutkan seseorang telah kecanduan social media. Namun, ada ciri-ciri tertentu yang bisa dikenali, seperti sering mengakses social media tanpa memikirkan ruang dan waktu, kapan, di mana dan sedang apa. Ketika timbul perasaan tertentu, seperti marah, sedih, emosi akan secara spontan meluapkankannya di social media. Merasa tertekan ketika tiba-tiba ada gangguan jaringan sehingga tidak dapat mengakses social media.sumber: austinmccann.comSelain ciri-ciri tersebut di atas, ada beberapa dampak lainnya yang timbul ketika kita terlalu sering menggunakan social media.

Berikut 4 fakta menarik terlalu sering menggunakan social media:Kecanduan Perilaku Seperti JudiSeseorang yang terlalu sering menggunakan social media telah mengaktifkan bagian otak yang terkait dengan imbalan. Hal ini seperti penjudi yang mendapatkan aliran perasaan senang ketika mereka menang. Ada kepuasan tertentu yang dirasakan ketika seseorang memposting sesuatu atau update status yang kemudian mendapat banyak ”like” atau banyak komentar. Hal ini dijelaskan oleh Dr. Michael Bengston, professor kepala bidang psikiatri anak dan remaja di University of South Florida yang menyatakan bahwa kecanduan tidak harus selalu melibatkan obat atau alkohol, tapi juga bisa kecanduan perilaku seperti judi.Gangguan PsikologisSeseorang yang terlalu sering menggunakan social media sampai timbul rasa candu, memiliki resiko lebih besar terkena gangguan psikologis. Hal ini berhubungan dengan hormon dopamine yang merupakan senyawa kimia yang ada dalam tubuh yang dapat merangsang rasa suka, gembira, atau ketenangan. Ketika seseorang mengakses social media dan mendapati banyak notifikasi di dalamnya, maka secara otomatis hormon dopamine akan bereaksi. Jika hal yang diinginkannya terpenuhi, maka akan timbul perasaan senang, namun jika tidak maka sebaliknya dia akan merasa resah. Karena sudah memasuki tahap kecanduan, maka perasaan yang dirasakan pun tentunya akan berlebihan baik itu senang, sedih, marah atau kesal. Bahkan menurut para pakar, apabila tingkat penggunaan social media sudah pada tahap addict, maka akan sulit untuk menghilangkan tingkat kecanduan tersebut, sehingga dibutuhkan waktu dan proses yang cukup lama untuk menyembuhkannya.Rendahnya Tingkat Tindakan SosialSeperti kita ketahui, kita bisa mengakses social media di mana pun dan kapan pun, dari media apa pun entah itu ponsel, tablet, netbook atau laptop, sehingga terkadang kita lupa dengan kondisi di sekeliling kita. Mengapa bisa terjadi demikian? Karena kita telah merasa kebutuhan yang diinginkan sudah terpenuhi, yakni menikmati kegiatan yang dilakukan di social media. Hal ini dibuktikan dalam sebuah penelitian di University Maryland yang menemukan bahwa setelah mennggunakan ponsel, keinginan seseorang untuk ambil bagian dalam tindakan sosial seperti membantu orang lain, cenderung berkurang. Prof. Rosellina Ferraro yang melakukan penelitian mengatakan bahwa setiap manusia mempunyai kebutuhan dasar untuk berhubungan dengan orang lain. Tetapi, ketika kebutuhan itu sudah terpenuhi, seperti sedang menggunakan ponsel, maka secara alami rasa empati dan keterikatan dengan sekitarnya ikut menurun. Hal ini diperkuat dengan sebuah studi yang dilakukan peneliti dari Kellog School of Management di University Northwestern yang menemukan hasil penelitian hampir mirip. Hasil penelitian tersebut mengungkapkan bahwa orang-orang yang sudah memiliki ikatan yang kuat pada lingkaran sosialnya cenderung meremehkan dan menganggap kelompok lain dengan tidak baik. Adam Waytz sebagai peneliti mengatakan bahwa ikatan sosial mirip dengan makan. Ketika lapar, kita akan mencari makanan. Ketika merasa kesepian, kita akan mencari ikatan sosial. Saat ikatan sosial itu menguat, secara sosial kita akan merasa “kenyang” dan kehilangan selera untuk mencari teman lagi dan memperlakukannya secara kurang layak. Begitu pun dalam kegiatan mengakses social media, jika terlalu sering, tidak menutup kemungkinan kita menjadi tidak terlalu peduli dengan sosialisasi di kehidupan nyata, karena kita sudah merasa puas dengan berinteraksi di social media.Gejala Gangguan MentalSalah satu kebiasaan baru yang dilakukan masyarakat pengguna social media adalah memposting berbagai kegiatan yang dilakukan di dalamnya, seperti memposting foto-foto ketika mengunjungi tempat tertentu, bahkan mereka rela mengurangi menikmati tempat yang dikunjungi untuk sekedar meng-upload foto terlebih dulu, belum lagi jika ada komentar masuk tentu saja ada keinginan untuk membalas komentar tersebut. Selain itu, yang sering kita lihat adalah memposting makanan sebelum menikmatinya. Lalu, apa hubungannya memposting makanan di social media dengan gejala gangguan mental? Ketika kita memposting banyak makanan di social media lalu ada banyak komentar yang masuk, di sanalah timbul keinginan untuk terus memposting makanan, bukan menyantapnya. Obsesi untuk terus mengunggah makanan dan minuman daripada menyantapnya, itu termasuk pada gejala gangguan mental. Kecenderungan seperti ini diungkapkan oleh Dr. Valerie Taylor, seorang psikiater dari Woman College Hospital, University of Toronto, Kanada. Beberapa restoran di New York bahkan menerapkan peraturan tidak boleh memfoto makanan dan mengungggahknya di social media. Salah satunya restoran milik Chef Michelin, David Bouley. Ia melarang para pelanggannya untuk mengambil foto makanan dan minuman yang telah disajikan. Menurutnya, makanan yang disajikan harus segera dinikmati dan aktivitas mengambil gambar bisa mengganggu pelanggan lain.Itulah 4 fakta menarik terlalu sering menggunakan social media. Sudah selayaknya kita menggunakan fasilitas teknologi yang ada dengan bijak. Gunakan apa yang kita butuhkan, bukan yang kita inginkan, karena keinginan akan terus meningkat. Apabila tidak dapat dikendalikan, maka yang timbul adalah kecanduan yang justru malah merugikan.
Continue Reading

Astaga inikah resiko jika tubuh terlalu gemuk

| 0 Komentar

No Images

Obesitas merupakan manifestasi dari kelebihan berat badan yang artinya mempunyai lemak tubuh terlalu banyak. Obesitas berbeda dengan overweight yang ‘hanya’ kelebihan berat badan, karena kelebihan berat badan bisa dimungkinkan karena adanya massa otot, tulang atau air yang berlebih (misalnya pada kasus atlet binaraga). Meskipun kedua istilah tersebut (obesitas dan overweight) sama-sama bermakna seseorang yang mempunyai berat badan melebihi berat badan yang normal sesuai tinggi badannya.
World Health Organization (WHO) menyatakan bahwa obesitas merupakan salah satu dari 10 kondisi yang berisiko di seluruh dunia dan salah satu dari 5 kondisi yang berisiko di negara-negara berkembang. Di seluruh dunia, lebih dari 1 milyar orang dewasa adalah overweight dan lebih dari 300 juta adalah obese.2
Berdasarkan data dari WHO tahun 2008, prevalensi obesitas pada usia dewasa di Indonesia sebesar 9,4% dengan pembagian pada pria mencapai 2,5% dan pada wanita 6,9%.1 Survey sebelumnya pada tahun 2000, persentase penduduk indonesia yang obesitas hanya 4,7% (±9,8 juta jiwa).2 Ternyata hanya dalam 8 tahun prevalensi obesitas di Indonesia telah meningkat dua kali lipatnya. Sehingga kita perlu mewaspai peningkatan yang lebih pesat dikarenakan gaya hidup sekarang yang semakin sedentary (santai dan bermalas-malasan) sebagai akibat dari kemudahan teknologi.
Kriteria obesitas adalah berdasarkan Indeks Massa Tubuh (IMT). IMT merupakan perbandingan antara berat badan dengan tinggi badan. Cara menghitung IMT adalah sebagai berikut: Berat Badan (kg)/ (Tinggi Badan (m) x Tinggi Badan (m))
Kriteria Penilaian Status Gizi Berdasarkan hasil IMT
Bahaya Obesitas
Obesitas dapat terjadi akibat ketidakseimbangan energi yang masuk dan energi yang digunakan. Peningkatan angka obesitas secara global di dunia dapat disebabkan oleh beberapa faktor, antara lain peningkatan konsumsi makanan padat energi, tinggi lemak dan gula namun rendah kandungan vitamin, mineral dan zat gizi mikro lainnya. Selain itu adanya suatu tren penurunan aktivitas fisik yang disebabkan oleh gaya hidup yang santai dan bermalas-malasan (sedentary), pekerjaan yang padat, perubahan model transportasi dan peningkatan urbanisasi.3
Obesitas yang tidak ditangani dapat berdampak serius terhadap kesehatan. Bebagai hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan erat antara obesitas dengan faktor resiko penyakit degeneratif seperti diabetes mellitus tipe II, hipertensi, dislipidemia, jantung bahkan kanker.

Obesitas menjadi faktor resiko berbagai penyakit
Obesitas dan Diabetes Mellitus
Diabetes, terutama Diabetes Mellitus Tipe II sangat erat hubungannya dengan obesitas. Hasil prediksi statistik menunjukkan bahwa tahun 2008 terdapat 110 juta penderita diabetes tipe II, yang diprediksi akan bertambah menjadi 180 juta pada tahun 2010, dan akan melonjak sampai 330 juta pada tahun 2025, dimana 80-90 persen diantaranya mengalami obesitas. Berdasarkan laporan International Diabetes Foundation (IDF) tahun 2004 menunjukkan bahwa 80% dari penderita diabetes mempunyai berat badan berlebih.4
Pada orang yang mengalami obesitas, terdapat kelebihan kalori akibat makan yang berlebih menimbulkan penimbunan lemak di jaringan kulit. Resistensi insulin akan timbul pada daerah yang mengalami penimbunan lemak sehingga akan menghambat kerja insulin di jaringan tubuh dan otot yang menyebabkan glukosa tidak dapat diangkat ke dalam sel dan menimbun di dalam pembuluh darah. Penumpukan glukosa  ini akan meningkatkan glukosa dalam darah.
Obesitas dan Kanker
Obesitas berasosiasi dengan peningkatan resiko beberapa jenis kanker antara lain:
  • Kanker Esofagus
  • Kanker Pankreas
  • Kanker Kolon dan Rektum
  • Kanker Payudara (setelah menopause)
  • Kanker Endometrium
  • Kanker Kidney Ginjal
  • Kanker Thyroid
  • Kanker Kandung Kemih
Sebuah penelitian menggunakan data National Cancer Institute Surveillance, Epidemiology, and End Results (SEER), memperkirakan bahwa pada tahun 2007 di Amerika Serikat, sekitar 34.000 kasus baru kanker pada laki-laki dan 50.500 pada wanita (7%) disebabkan oleh obesitas. Persentase kasus kanker yang disebabkan oleh obesitas tersebut bervariasi secara luas, tetapi 40% tertinggi adalah kanker endometrium dan esophageal adenocarcinoma. Proyeksi kedepan untuk permasalahan obesitas pada tahun 2030 diperkirakan akan terjadi keberlanjutan tren yang ada yang akan menyebabkan sekitar 500.000 tambahan kakus kanker di Amerika Serikat pada tahun 2030. Analisis ini juga menemukan bahwa jika setiap dewasa mengurangi IMT nya 1 poin, yang artinya ekuivalen dengan 1 kg bagi dewasa dengan berat rata-rata, akan dapat mencegah peningkatan jumlah kasus kanker dan hasil akhirnya menghindari sekitar 100.000 kasus kanker baru.5
Beberapa kemungkinan mekanisme dapat menjelaskan asosiasi obesitas dengan peningkatan resiko beberapa kanker sebagai berikut:
  • Jaringan lemak memproduksi sejumlah estrogen berlebih, pada level tinggi estrogen berlebih berhubungan dengan resiko kanker payudara, endometrium, dan beberapa jenis kanker lainnya.
  • Orang obese sering mengalami peningkatan level insulin dan insulin-like growth factor-1 (IGF-1) dalam darah (kondisi ini dikenal dengan hyperinsulinemia atau resistensi insulin), yang dapat menyebabkan perkembangan beberapa tumor.
  • Sel-sel lemak memproduksi hormon yang disebut sebagai adipokines, yang dapat menstimulasi atau menghambat pertumbuhan sel. Misalnya leptin, yang banyak terdapat pada orang obese dapat menyebabkan proliferasi sel, sedangkan adiponectin yang jumlahnya lebih sedikit pada orang obese dapat menyebabkan efek antiproliferasi.
  • Sel-sel lemak juga dapat mempunyai efek langsung maupun tidak langsung pada pengatur/regulator pertumbuhan sel tumor lainnya.
  • Orang obese sering mempunyai level kronis yang rendah, atau peradangan sub akut, yang berasosiasi dengan peningkatan resiko kanker.
  • Kemungkinan mekanisme lainnya termasuk pengaruh respon imunitas, efek faktor nuklir dan stres oksidatif.
Obesitas dan Kanker Payudara
Berbagai penelitian telah menunjukkan bahwa overweight dan obesitas mempunyai asosiasi dengan peningkatan resiko kanker payudara setelah menopause. Resiko lebih tinggi terjadi pada wanita yang tidak pernah menggunakan hormon terapi menopause. Hubungan antara obesitas dan kanker payudara dapat dipengaruhi oleh tahapan kehidupan dimana seorang wanita cenderung mengalami pertambahan berat badan dan menjadi obesitas. Peningkatan berat badan selama hidup sering terjadi dari usia 18 sampai 50an, dan hal ini secara konsisten berasosiasi dengan resiko kanker payudara setelah menopause.
Peningkatan resiko kanker payudara postmenopause disebabkan oleh peningkatan level estrogen pada wanita obese. Setelah menopause, sel telur berhenti memproduksi hormon, jaringan lemak menjadi sumber yang penting dari estrogen. Karena wanita yang obesitas mempunyai jaringan lemak lebih banyak, level esterogen mereka lebih tinggi, yang berpotensi mengarah ke pertumbuhan tumor payudara.
Obesitas dan Penyakit Jantung/Kardiovaskular
Obesitas merupakan faktor resiko bebas bagi penyakit kardiovaskular. Kelebihan berat badan mempengaruhi faktor resiko penyakit kardiovaskular seperti peningkatan level kolesterol LDL, trigliserida, tekanan darah, level gula darah dan menurunkan level kolesterol HDL serta meningkatkan resiko perkembangan penyakit jantung koroner, gagal jantung, stroke, dan aritmia jantung. Mencapai dan menjaga berat badan yang sehat selama hidup merupakan salah satu faktor utama untuk menurunkan resiko penyakit kardiovaskuler.
Obesitas dan Osteoarthritis
Osteoarthritis (OA) adalah suatu penyakit sendi degeneratif yang mempunyai etiologi dan patogenesis yang belum jelas. Obesitas merupakan salah satu faktor resiko penyakit osteoarthritis. Faktor resiko lain adalah usia, jenis kelamin,  hormonal, genietik serta aktivitas fisik tertentu.10 Obesitas meningkatkan beban biomekanik pada sendi lutut dan panggul selama aktivitas. Tekanan pada lutut dan panggul selama aktivitas, 2-4 kali lebih besar dari berat badan normal, sehingga efek berat badan yang berlebih akan meningkatkan tekanan pada lutut dan panggul. Obesitas juga meningkatkan risiko OA melalui peningkatan kadar hormon, faktor pertumbuhan dan faktor intermediate yang berperan pada patogenesis OA.
Hasil penelitian dengan menggunakan desain cross sectional menggunakan sampel pasien RSUP Dr Sardjito mulai bulan Januari sampai bulan Maret tahun 2009 menyimpulkan terdapat hubungan antara osteoarthritis lutut dan obersitas secara radiografik.9
Obesitas dan Hipertensi
Hipertensi dan obesitas merupakan suatu keadaan yang sering dihubungkan dengan peningkatan risiko penyakit kardiovaskular. Prevalensi kedua keadaan ini adalah cukup tinggi dan makin meningkat dari tahun ke tahun. Swedish Obese Study melaporkan angka kejadian hipertensi pada obesitas adalah sekitar 13,6 % dan Framingham study mendapatkan peningkatan insidens hipertensi, diabetes mellitus dan angina pektoris pada organ dengan obesitas dan resiko ini akan lebih tinggi lagi pada obesitas tipe sentral.6
Obesitas terutama tipe sentral/abdominal sering dihubungkan dengan beberapa keadaan seperti diabetes melitus, hiperlipidemia, penyakit jantung, hipertensi, penyakit hepatobiliar dan peningkatan resiko mortalitas dan morbiditas.Swedish Obese Study (1999) mendapatkan kejadian hipertensi pada 13,6% populasi obesitas sedangkan Tromo study membuktikan adanya hubungan antara peningkatan indeks massa  dengan peningkatan tekanan darah baik pada laki-laki dan wanita. Peningkatan risiko ini juga seiring dengan peningkatan waist -hip- ratio (WHR) dan waist circumferencedimana dikatakan risiko tinggi bila memiliki WHR > 0,95 untuk laki-laki dan  > 0,85 untuk wanita, serta waist circumference > 102 cm untuk laki-laki dan > 88 cm untuk wanita. Laki-laki memiliki resiko  angka kejadian penyakit kardiovaskular yang lebih tinggi dibanding wanita, karena obesitas tipe sentral ini lebih banyak terjadi pada laki-laki dibanding wanita. Hal ini disebabkan adanya perbedaan distribusi lemak tubuh antara laki-laki dan wanita. Pada laki-laki distribusi lemak tubuh terutama pada daerah abdomen sedangkan wanita lebih banyak pada daerah gluteal dan femoral.
Rekomendasi pola makan dan gaya hidup (American Heart Association 2006)8
  1. 1. Seimbangkan asupan kalori dan aktivitas fisik untuk mencapai dan menjaga berat badan yang ideal
Gizi seimbang merupakan kata kunci untuk melepaskan diri dari obesitas. Menjaga keseimbangan asupan energi yang masuk dan yang dikeluarkan untuk beraktifitas. Penambahan aktifitas penting dilakukan dalam rangka usaha menurunkan berat badan. Aktifitas fisik memerlukan energi di luar kebutuhan untuk metabolisme basal, banyaknya energi yang dibutuhkan bergantung pada berapa banyak otot yang bergerak, berapa lama dan berapa berat pekerjaan yang dilakukan.7 Pada seorang obese menggunakan lebih banyak energi untuk melakukan suatu pekerjaan dibandingkan dengan orang yang kurus. Bersepeda dengan kecepatan sedang selama satu jam pada orang obese dengan berat badan 100kg akan membakar 250 kkal. Membiasakan olahraga setiap hari sangat baik untuk membantu menyeimbangkan energi yang masuk dan energi yang keluar sehingga orang obese dapat mencapai berat badan yang ideal.
  1. 2. Konsumsi diet yang kaya buah-buahan dan sayuran
Sebagian besar sayur dan buah kaya akan zat gizi, rendah kalori dan tinggi serat. Sehingga diet yang kaya sayur dan buah  mencukupi kebutuhan zat gizi mikro, makro, dan serat tanpa penambahan jumlah konsumsi energi total secara substansial. Berdasarkan hasil penelitian dalam jangka pendek, diet yang kaya akan sayur dan buah menunjukkan penurunan tekanan darah dan faktor resiko penyakit kardiovaskuler lain. Dalam penelitian longitudinal diet kaya sayur dan buah menurunkan resiko perkembangan penyakit kardiovaskuler terutama stroke.
Variasi sayur dan buah sangat direkomendasikan. Sayuran dan buah yang berwarna mencolok (misal bayam, wortel, peach, strawberry) lebih ditekankan karena kandungan zat gizi mikronya cenderung lebih tinggi bila dibandingkan sayuran dan buah lain seperti kentang dan jagung. Jus buah kurang bisa menyamai kandungan serat pada buah segar. Diet kaya sayur dan buah merupakan strategi untuk menurunkan densitas energi diet untuk mengontrol asupan kalori.
  1. 3. Pilihlah makanan dari biji-bijian utuh (whole-grain) yang kaya serat
Pola makan sehari-hari yang kaya akan produk biji-bijian dan serat berhubungan dengan peningkatan kualitas diet dan menurunkan resiko penyakit kardiovaskular. Konsumsi serat membuat perut terasa kenyang dengan memperlambat pengosongan lambung sehingga dapat menurunkan asupan kalori. Serat yang larut dapat meningkatkan sintesis asam lemak rantai pendek sehingga menurunkan produksi kolesterol endogenik. American Heart Association merekomendasikan sedikitnya setengah dari asupan gandum atau sumber karbohidrat berasal dari biji-bijian utuh.
  1. 4. Konsumsi ikan, sedikitnya dua kali seminggu
Ikan, terutama yang berlemak sangat kaya akan asam lemak rantai panjang PUFA omega-3 , eicosapentanoic acid (EPA), dan docosahexaenoic acid (DHA). Mengkonsumsi ikan  yang kaya EPA dan DHA dua porsi dalam seminggu berhubungan dengan penurunan resiko meninggal secara mendadak (suddent death) dan meninggal akibat penyakit jantung koroner pada orang dewasa.11 Cara pengolahan ikan juga penting untuk diperhatikan, dalam mengolah harus diminimalisir penggunaan asam lemak jenuh dan asam lemak trans tambahan seperti yang terdapat dalam lemak hidrogenasi (mentega, margarin), dan saus krim yang kaya lemak jenuh. Food and Drug Association (FDA) menyarankan untuk menghindari konsumsi ikan yang potensial mengandung kontaminasi merkuri tertinggi  (seperti ikan hiu dan mackarel) dan menggantinya dengan ikan yang lebih sedikit kemungkinan kontaminasinya seperti ikan tuna, lele, dan salmon.
  1. 5. Batasi asupan lemak jenuh, lemak trans, dan kolesterol
Batasilah asupan lemak jenuh  sampai 7% dari energi, lemak trans sampai 1% dari energi dan kolesterol 300 mg per hari dengan memilih daging yang tidak berlemak, sayuran, skim, atau produk susu dan olahannya yang rendah lemak, minimalisir lemak terhidrogenasi. Diet yang rendah asam lemak jenuh, asama lemak trans dan kolesterol dapat menurunkan resiko terkena penyakit kardiovaskular.
Usaha untuk mengurangi asupan lemak jenuh dan kolesterol dapat dilakukan dengan mengganti pangan hewani ke pangan nabati atau memilih produk yang berlabel rendah lemak atau bebas kolesterol. Untuk mengurangi asupan lemak trans adalah dengan mengurangi produk lemak hidrogenasi seperti pada makanan yang digoreng.
  1. 6. Minimalisir asupan minuman dan makanan yang menggunakan pemanis tambahan.
Alasan utama mengurangi asupan minuman dan makanan yang mengandung gula tambahan adalah untuk mengurangi jumlah total kalori yang masuk. Seseorang yang terbiasa mengkonsumsi minuman dan makanan dengan gula atau pemanis tambahan cenderung ingin mengkonsumsi lagi dan lagi. Hal inilah yang dapat menimbulkan peningkatan berat badan.
  1. 7. Pilihlah dan masaklah makanan dengan menggunakan sedikit atau tanpa garam.
Peningkatan asupan garam (sodium klorida) akan diikuti oleh peningkatan tekanan darah. Pengurangan garam dapat mencegah hipertensi dan dapat memfasilitasi kontrol tekanan darah. Dengan tekanan darah yang normal maka dapat mengurangi resiko terkena penyakit kardiovaskular dan gagal jantung kongestif.
  1. 8. Jika anda mengkonsumsi alkohol, kurangi jumlah dan frekuensinya
Konsumsi alkohol berhubungan dengan peningkatan resiko berbagai penyakit. Berhenti mengkonsumsi  lebih baik dilakukan untk meningkatkan kualitas hidup sehat.
Dengan mengikuti rekomendasi diet dan gaya hidup sehat ini diharapkan terjadi penurunan resiko dari penyakit kardoivaskular dan penyakit degeneratif lainnya.

Daftar Pustaka
  1. WHO.2011. Indonesia: Health Profile. World Health Organization. Last Update 4 April 2011. Diunduh dariwww.who.int/gho
  2. Hariadi dan Ali, Arsad Rahim. 2005. Hubungan Obesitas dengan Beberapa  Faktor Risiko Penyakit Jantung Koroner di Laboratorium Klinik Prodia Makasar Tahun 2005. Hasil Penelitian.diunduh darihttp://arali2008.files.wordpress.com/2008/09/obesitas-dan-jantung-koroner.pdf
  3. Pamela, Dyah R. 2011. Overweight dan Obesitas sebagai Suatu Resiko Penyakit Degeneratif. http://www.suyotohospital.com/index.php?option=com_content&view=article&id=115:overweight-dan-obesitas-sebagai-suatu-resiko-penyakit-degeneratif&catid=3:artikel&Itemid=2
  4. Tandra, Hans. 2008. Segala Sesuatu yang harus Anda ketahui tentang Diabetes. Gramedia Pustaka Utama. Jakarta.
  5. National Cancer Institut.2011. Obesity and Cancer Risk. Diunduh dari www.cancer.gov
  6. Kapojos,E.J. 2009. Hipertensi dan Obesitas. Jurnal Kardiologi Indonesia. Diunduh dariwww.jantunghipertensi.com
  7. Almatsier S. 2009. Prinsip Dasar Ilmu Gizi. Gramedia Pustaka Utama. Jakarta
  8. Lichtenstein A H,. Et al. 2006. Diet and Lifestyle Recommendations Revision 2006: A Scientific Statement From American Heart Association Nutrition Committe. Journal of The American Heart Association.http://circ.ahajournals.org/cgi/content/full/114/1/82.
  9. Rosnani C. 2009. Hubungan antara osteoarthritis lutut dan obesitas secara radiografik. Tesis. Unoversitas Gajah Mada. Yogyakarta.
  10. Luthfi. 2008. Obesitas dan Osteoartritis Lutut: Penelitian Potong Lintang Pasien Rawat Jalan di RSUD Moewardi Surakarta. Skripsi. Fakultas Kedokteran. Universitas Muhamadiyah Surakarta.
  11. Kris-Etherton PM, Harris WS, Appel LJ. American Heart Association. Nutrition Committee. Fish Consumption, fish oil, omega-3 fatty acids, and cardiovascular disease. Circulation. 2002;106:2742-2757
Continue Reading

LASIK (Laser Assisted In-situ Keratomileusis)

| 0 Komentar

LASIK adalah suatu prosedur/tindakan dengan tujuan memperbaiki kelainan refraksi pada mata sehingga setelah dilakukan tindakan ini, penderita kelainan refraksi diharapkan dapat terbebas dari kacamata/lensa kontak.
Sejak pertama kali dikembangkan pada tahun 1990, teknologi lasik terus berkembang pesat. Teknologi terkini pada tindakan LASIK adalah yang disebut Wavefront Guided LASIK/Refraktive Surgery, yaitu gabungan antara ketepatan pengukuran dan kelainan refraksi mata. Yang memperhitungkan berbagai faktor, selanjutnya digunakan untuk menetapkan parameter-parameter pada prosedur/tindakan LASIK. Semua pekerjaan ini dikerjakan oleh System yang khusus, sehingga kesalahan-kesalahan pengukuran pada metode konvensional dapat dihindarkan.
Semarang Eye Center sebagai pusat pelayanan LASIK pertama di Jawa Tengah selain mempunyai dokter yang handal dan telah berpengalaman juga berusaha memberikan pelayanan yang prima. Hal ini dibuktikan dengan ruang yang sangat representatif dan nyaman serta service yang memuaskan.

Photobucket Photobucket
PhotobucketPhotobucket
Indikasi
Siapakah yang dapat menjalani tindakan LASIK?
  1. Apabila sudah berumur 18 tahun.
  2. Tidak sedang hamil atau menyusui.
  3. Tidak mempunyai riwayat auto imun.
  4. Mempunyai ukuran kacamata yang stabil.
  5. Gangguan penglihatan anda dapt dikoreksi dengan kacamata atau lensa kontak.
  6. Kelainan refraksi anda berkisar +_ 4.00 s/d 14 Dioptri.
  7. Apabila anda menggunakan lensa kontak, minimal anda telah melepas lensa kontak 14 hari berturut-turut untuk soft contact lensa dan selama 30 hari untuk hard contact lens.
Gangguan pelihatan apa saja yang dapat diperbaiki LASIK?
  1. Myopia yaitu gangguan penglihatan jauh, biasanya dikoreksi dengan kacamata minus.
  2. Hyperopia yaitu gangguan penglihatan dekat, biasanya dikoreksi dengan kacamata plus.
  3. Astigmatism yaitu gangguan penglihatan yang disebabkan oleh bayangan tidak jauh dari satu titik di sumbu penglihatan, biasanya dikoreksi dengan kaca mata silinder.
Kontra Indikasi
Penyakit/keadaan apa saja dimana tindakan LASIK tidak dianjurkan?
  1. Mata yang mengalami infeksi.
  2. Keratokonus (lengkung kornea terlalu tinggi).
  3. Kornea terlalu tipis.
  4. Kehamilan.
  5. Mata yang kering (dry eyes).
  6. Riwayat penyakit Glaukoma.
  7. Penderita diabetes melitus yang telah mengalami komplikasi retina.
Efek samping pasca prosedur
Efek samping apa saja yang dapat terjadi pada prosedur atau tindakan LASIK?
Pada sebagian besar pasien yang menjalani tindakan ini menunjukkan hasil yang sangat memuaskan, namun sebagaimana halnya kemungkinan resiko akibat tindakan LASIK dapat dialami oleh sebagian kecil pasien, antara lain:
  1. Over Correction (kelebihan koreksi).
  2. Under Correction ( kekurangan koreksi).
  3. Regresi, yaitu kelainan refraksi kembali timbul. Umumnya terjadi pada myopia tinggi (lebih dari 10.00 Dioptri).Hal ini dapat dikoreksi dengan tindakan LASIK ulangan setelah terjadi penyembuhan sempurna.
Prosedur untuk menjadi pasien LASIK
Sebelum memutuskan untuk menjalani prosedur/tindakan LASIK anda harus menjalani tahap-tahap dibawah ini :
  1. konsultasi awal agar mengerti betul prosedur/tindakan LASIK : manfaat tindakan ini dan kemungkinan komplikasi yang dapat timbul.
  2. Konsultasi/pemeriksaan oleh dokter spesialis mata. Mata anda akan diperiksa secara teliti dengan menggunakan peralatan muthakir secara komputerisasi, sehingga dapat diputuskan apakah kemungkinan bagi anda untuk menjalani tindakan LASIK. Rangkaian pemeriksaan tersebut adalah dalam rangka mengumpulan data yang dibutuhkan untuk prosedur/tindakan LASIK.
  3. Prosedur/tindakan LASIK memerlukan pembiusan lokal karena itu anda tidak perlu menjalani rawat inap.


Sumber: rsisultanagung.co.id
Continue Reading
 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. DEAS FUNKY™ - All Rights Reserved
Template Modify by Creating Website
Proudly powered by Blogger